UPACARA TEDHAK SITEN (Turun Tanah) 2009-12-07 10:53:08

Thedak  : Turun.

Siten      : Tanah (dari kata Siti).

Upacara Tedhak siten (turun tanah) adalah upacara adat, sebagai ungkapan syukur  pertama kalinya si anak  menginjakkan kaki ke tanah/bumi sbg lambang pijakkan hidup manusia, dg maksud anak tersebut mampu berdiri sendiri dalam menempuh kehidupan. Dilaksanakan pada anak yg sudah berumur tujuh lapan (7 x 38 hari).

Pada umumnya upacara dilangsungkan pada pagi hari di halaman rumah, perlengkapan yang perlu dipersiapkan :

1.  Tanah, Juadah (uli) tujuh macam warna, yaitu putih, merah, hijau, kuning, biru, ungu, coklat.

2. Tangga yang dibuat dari batang tebu wulung/tebu arjuna/tebu rejuna.

Tangga tebu wulung melambangkan tingkat-tingkat kehidupan yg  mengandung makna agar si anak nantinya dapat mencapai tingkat kehidupan yg baik.

3. Kurungan yg sudah dihias dan didalam kurungan dipersiapkan/dimasukkan bermacam-macam barang antara lain: alat-alat tulis, buku, mainan anak-anak (dokter2an, mobil2an, alat memasak, dll), uang, perhiasan (gelang, kalung), dll.

4.      Air untuk mandi (banyu gege) adalah air yg ditempatkan disebuah tempayan (bokor), didiamkan semalam ditempat terbuka, paginya dipanaskan sinar matahari pagi sampai pukul ±08.00. Sinar ultra violet sangat bagus untuk pertumbuhan anak terutama untuk menguatkan tulang. Air gege ini ditaburi bunga setaman untuk wewangian.

5.  Ayam panggang yg diikat menyatu dg tebu wulung/tebu Arjuna. Fungsi tebu sbg tongkat, satu lirang pisang raja juga diikatkan dengan lawe wenang.

6. Udhik-udhik, terdiri dari bermacam-macam biji-bijian/ kacang-kacangan, beras kuning, uang logam/kertas. (udhik-udhik ini dimaksudkan sbg ungkapan rasa syukur).

7.   Uborampe lainnya :

7.1. Jajan pasar lengkap

7.2. Jenang-jenangan (jenang merah & putih,  

       jenang baro-baro, tumpeng gundul).

7.3. Tumpeng robyong

7.4. Ayam hidup

7.5. Sekar/bunga setaman ditempatkan dlm bokor besar.

 Pelaksanaan Acara

 1. Anak yang akan turun tanah dipapah/dititah oleh kedua orang tuanya, menginjakkan kakinya ke Tanah, selanjutnya menginjak Juadah yang berjumlah tujuh warna. Artinya hari-hari yang akan dilalui dalam hidupnya (tujuh hari) semua mengandung makna yg berkaitan dg alam ini, dg pijakkan yg kokoh dan kuat untuk mulai mengenal dunia ini dg berbagai ragam/warna kehidupan.

 2.  Dengan di papah, anak dibantu menaiki anak tangga yg terbuat dari tebu wulung/tebu arjuna sampai anak tangga yg paling atas, melambangkan tingkat-tingkat kehidupan. Bermakna agar si anak dimasa depan dapat mencapai tingkat kehidupan yang lebih baik.

 3. Setelah naik tangga, dg digendong anak memasuki kurungan yg telah dihias dan didalamnya tdp benda-benda yg telah dipersiapkan, ditemani ibu/pengasuhnya.

Makna anak masuk ke dalam kurungan supaya sang anak betul-betul dapat konsentrasi dalam menentukan pilihannya. Apa yg diambil sang anak melambangkan bagaimana kehidupannya kelak (cita-cita).

Kurungan sebagai lambang “batas” yang bermakna setinggi apapun sebuah cita-cita tetap ada batasnya.

4.   Setelah upacara dlm kurungan selesai, anak dimandikan dg air gege yg ditaburi bunga setaman, dg harapan air ini membuat anak segar bugar, harum, hilang aral melintang dan cepat besar serta sehat wal’afiat. Dalam bahasa jawa dikatakan “gelis gedhe ilang sarap sawane”.

Air kembang setaman melambangkan sifat suci dalam tiap tingkatan hidup/peralihan hidup yg akan dijalaninya. Bunga mawar melambangkan agar kelak si anak menjadi orang yang penyabar. Bunga melati melambangkan suci bersih lahir batin. Bunga kenanga/cempoko mulya, agar hidupnya mulia. Bunga kantil, agar mempunyai rasa kebersamaan.

Setelah mandi anak berpakaian rapi.

5.  Anak kemudian dipapah kedua orang tuanya berjalan sambil memegang tongkat tebu yg telah disiapkan dg segala perlengkapannya, yang mengandung arti bagaimanapun juga orang tua selalu membimbing anaknya untuk bisa menjalani kehidupan yang lurus (benar) dan manis semanis rasa air tebu.

6.  Sebagai rasa syukur, dilambangkan dengan  menyebar udhik-udhik ke seluruh ruangan, maknanya agar si anak kelak menjadi orang yang dermawan, suka bersedekah. Upacara udhik-udhik ini dilaksanakan oleh eyang putri/nenek dari sang anak (cucu). Apabila nenek tidak ada, dpt dilakukan oleh ibu sang anak.

Demikian seluruh rangkaian Upacara Tedhak siten telah selesai.

 -ooOoo-

 NB :

Yang dipersiapkan sendiri oleh pemangku hajat tedhak siten :

 1. Bermacam2 barang yg dimasukkan dalam kurungan antara lain: alat-alat tulis, buku, kalkulator, hp, mainan anak-anak (dokter2an, mobil2an, alat memasak, dll), uang, perhiasan/emas (seperti gelang, kalung), dll.

2.   Tanah

3.   Air untuk mandi dan tmp/bak mandi anak.

4.   Baju anak.

5.   Uang logam dan uang kertas (uang kertas dpt dimasukkan didalam sedotan yg sdh dibentuk sesuai ukuran uang kertas, yg nanti dicampurkan kedlm udhik-udhik.

                                                            -ooOoo-

Ket. gambar selengkapnya dpt dilihat di Facebook Taridonolobo.

testimonial

SANGGAR RIAS PENGANTIN
Ibu Tari Donolobo
Jl. Rancho Indah No.66 Rt.08/02
Tanjung Barat, Jakarta Selatan 12530

SANGGAR PERLENGKAPAN UPACARA ADAT dan BUSANA
Ibu Donatirin Siswadi
Jl. Damai Musyawarah No.47 Rt. 02/03
Pd.Labu Jakarta 12450.


GAMBAR SELENGKAPNYA :

sosfacebookcontact us

Ibu Tari
Phone : 0815 890 2698

email : yenry.taridonolobo@gmail.com